Etika Layanan Jurnalistik Koran Jawa Pos

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam dunia jurnalistik, sering sekali tertulis kata-kata yang seharusnya bukan menjadi tempatnya untuk di tulis atau diungkapkan. Begitu pula pada jurnalistik bidang olahraga, yang didalamnya terdapat unsur sportifitas, fairplay, dan nilai-nilai etika lain yang mendasari suatu bidang olahraga tersebut dapat berjalan secara harmonis dan sesuai dengan aturan yang ada.
Seperti contohnya, dalam koran harian Jawa Pos Edisi Kamis, 6 Mei 2010 dicetak judul seperti berikut, Barcelona “Hajar” Tenerife dengan skor Telak 4-1. Kata-kata  ”bantai”, ”hajar” dsb sering kita lihat dan dengar pada media massa yang memuat suatu berita olahraga. Selain itu, berita yang memuat tentang kata-kata tersebut seringkali kita lihat ditampilkan pada halaman depan suatu media massa/koran. Kata-kata tersebut memang merupakan suatu hal yang membuat ketertarikan sendiri bagi suatu media massa agar memiliki nilai komersil dan daya tarik bagi pembaca dan pendengar berita. Namun, alangkah baiknya apabila kata-kata tersebut kita gantikan dengan kata-kata yang lebih baik lagi dan beretika, seperti Barcelona menang besar melawan Tenerife 4-1, atau Tenerife dibuat kalah besar 4-1 melawan Barcelona dsb.
Etika dalam memakai kata-kata yang dinilai kurang benar dan sesuai seringkali kita abaikan yang akhirnya memicu perselisihan yang ada, misalnya antara suporter kedua belah pihak. Dengan adanya kata-kata seperti itu, membuat suporter dari kedua belah pihak menjadi terpancing emosinya dan menimbulkan adanya konflik yang lebih buruk dari sebelumnya, yaitu misalnya awal dari hanya saling mencemooh dan mencela hingga adanya kekerasan yang berlanjut.
Dalam kehidupan kita sehari-hari saja, kita diajarkan untuk beretika dan bertata krama dalam berbicara dan menyampaikan kata-kata. Oleh karena itu, alangkah baiknya apabila bahasa dan etika dalam berbahasa yang dipakai dalam dunia jurnalistik, khususnya media cetak (koran Jawa Pos) lebih dipertimbangkan lagi yang sesuai dan benar dengan etika dalam kehidupan kita.

B. Rumusan Masalah
Adapun masalah yang didapat dari penulisan makalah ini, yaitu bagaimanakah kita menanggapi kata-kata hiperbola yang ada dalam media cetak, khususnya koran Jawa Pos dengan etika dalam kehidupan kita?

C. Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui etika dalam penulisan bahasa jurnalistik yang sesuai dengan kehidupan kita, serta sikap kita dalam menanggapinya khususnya dalam koran Jawa Pos.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Sejarah Jawa Pos
Jawa Pos lahir pada 1 Juli 1949. Pendirinya adalah The Chung Shen, dengan Gho Cheng Hok sebagai pemimpin redaksi pertama. Kantor pertama Jawa Pos terletak di China Town Surabaya, Jalan Kembang Jepun. Pada 1982, kondisi Jawa Pos sangatlah mengkhawatirkan. Oplah harian hanya sekitar 6.000 eksemplar. Berbagai problem lain ikut membelit perusahaan. The Chung Shen, yang sudah berumur 83 tahun, lantas menjual Jawa Pos ke PT Grafiti Pers, penerbit Majalah Tempo.
Fondasi awal manajemen baru Jawa Pos ini disusun oleh Direktur Utama PT Grafiti Pers kala itu, Eric Samola. Untuk menjalankan perusahaan, dia menunjuk Dahlan Iskan, yang waktu itu adalah kepala biro Tempo di Jawa Timur.
Di tangan Dahlan Iskan, Jawa Pos mulai berkembang
Sekarang, Jawa Pos adalah salah satu koran terbesar di Indonesia. Setiap hari dibaca oleh sekitar 3 juta orang. Untuk mendapatkan itu tentu tidak mudah. Bukan sekadar kerja keras, Jawa Pos selalu berinovasi dan berbuat lebih untuk pembacanya. Slogan Jawa Pos adalah Selalu Ada yang Baru. Sebagai koran, Jawa Pos selalu menampilkan halaman-halaman baru yang tidak dimiliki pesaing.
Pada 1997, Jawa Pos menjadi koran pertama di Indonesia yang terbit dalam berbagai seksi. Salah satu yang paling utama adalah Metropolis. Halaman ini mendekatkan Jawa Pos dengan pembaca di Surabaya, memuat berbagai aspek kehidupan warga kota. Mulai politik, kriminal, sampai lifestyle.  Pada 2000, Jawa Pos menjadi koran pertama yang menyediakan halaman khusus untuk anak muda. Bernama DetEksi, halaman ini terbit tiga halaman setiap hari, dikerjakan sepenuhnya oleh anak muda. Mulai penulis, fotografer, sampai redaktur. Begitu mudanya, usia rata-rata personel DetEksi hanya 20 tahun. Pada 2003, Jawa Pos menjadi koran pertama yang memiliki seksi khusus olahraga. Sekarang, seksi khusus itu berubah nama menjadi Sportivo, terbit 16 halaman setiap hari. Tidak ada koran lain di Indonesia yang memiliki halaman olahraga sebesar Jawa Pos.
Dalam beberapa tahun terakhir, Jawa Pos juga bereksperimen dengan segmen usia pembaca. Pada 2006, ada lembaran khusus untuk keluarga muda, bernama Nouvelle. Pada 2008 ini, ada lembaran khusus untuk pembaca yang berusia di atas 50 tahun, bernama Evergreen.

Jawa Pos bukan hanya berinovasi dalam bentuk halaman-halaman khusus. Jawa Pos juga selalu berbuat lebih untuk mendekatkan diri dengan pembaca serta mendorong pertumbuhan masyarakat dan lingkungan. Caranya, melalui kegiatan-kegiatan yang juga inovatif.
Untuk mendekatkan diri dengan pembaca muda, dengan bendera DetEksi, Jawa Pos melakukan banyak kegiatan untuk anak muda. Mulai konser, kompetisi majalah dinding, basket, dan lain sebagainya. Even-even DetEksi ini sekarang telah berkembang menjadi even-even anak muda terbesar dan terheboh di Indonesia. Jawa Pos juga aktif menyelenggarakan kampanye berkendara aman di jalan raya. Bersama kepolisian, sejak 2003, Jawa Pos mampu menjadikan Surabaya sebagai kota pertama yang menerapkan aturan wajib helm, safety belt, dan kanalisasi kendaraan roda dua.
Jawa Pos merupakan koran yang peduli lingkungan. Bukan hanya lewat tulisan, juga lewat perbuatan. Sejak 2005, bersama pemerintah kota dan Unilever, Jawa Pos menyelenggarakan acara Surabaya Green and Clean. Konsisten diselenggarakan setiap tahun, acara ini berhasil menjadikan Surabaya sebagai salah satu kota terhijau dan terbersih di Indonesia. Acara ini juga mendapat penghargaan tingkat internasional. Masih banyak lagi kegiatan-kegiatan inovatif yang diselenggarakan oleh Jawa Pos. Ada program peningkatan profesionalitas guru, festival seni, festival shopping, dan lain sebagainya.
DetEksi Basketball League (DBL)     Mading Competition     DetEksi Convention

B. Perkembangan Grup Jawa Pos

Jawa Pos tidak hanya berkembang di Surabaya. Jawa Pos juga menumbuhkan koran-koran dan media cetak lain di berbagai penjuru Indonesia. Saat ini, tercatat lebih dari 130 koran terbit di bawah bendera Jawa Pos Group. Mulai dari Aceh sampai Papua. Tidak ada grup media lain di Indonesia yang memiliki jaringan sebesar Jawa Pos. Untuk menunjang pertumbuhan koran-koran tersebut, Jawa Pos mendirikan pabrik kertas sendiri. Pada 1995, PT Adiprima Suraprinta, di kawasan Gresik, tidak jauh dari Surabaya. Sekarang, pabrik kertas ini tidak hanya memenuhi kebutuhan Jawa Pos Group. Sekarang, pabrik kertas ini juga telah mengekspor hasil produksinya ke berbagai negara.
Selain media cetak, Jawa Pos juga menjadi pelopor pertumbuhan televisi lokal. Pada 2001, RTV menjadi stasiun televisi lokal pertama Jawa Pos Group di Pekanbaru. Tidak lama kemudian, pada tahun yang sama, Jawa Pos melahirkan JTV di Surabaya. Pada 2008, Jawa Pos Group telah memiliki 12 stasiun televisi lokal di berbagai provinsi di Indonesia. Jumlah ini akan terus bertambah pada tahun-tahun berikutnya. Dalam beberapa tahun terakhir, Jawa Pos juga terjun ke industri listrik. Power plant pertama Jawa Pos beroperasi di Gresik, untuk memenuhi kebutuhan listrik perusahaan. Sekarang, Jawa Pos juga sudah memiliki pembangkit listrik komersial di Kalimantan Timur.
JTV Surabaya     Pabrik Kertas Gresik     Powerplant (Balikpapan – Kaltim)

BAB III
PROGRAM PEMECAHAN MASALAH

A. Lebih Memahami tentang Etika
Adapun etika dalam berbahasa jurnalistik, yaitu dengan memahami dan mengerti kode etik jurnalistik itu sendiri. Sehingga jurnalistik Jawa Pos dapat lebih menyajikan suatu berita lebih baik dan etis. Kode Etik Jurnalistik (KEJ) itu antara lain menetapkan.
1.    Berita diperoleh dengan cara yang jujur.
2.    Meneliti kebenaran suatu berita atau keterangan sebelum menyiarkan (check and recheck).
3.    Sebisanya membedakan antara kejadian (fact) dan pendapat (opinion).
4.    Menghargai dan melindungi kedudukan sumber berita yang tidak mau disebut namanya. Dalam hal ini, seorang wartawan tidak boleh memberi tahu di mana ia mendapat beritanya jika orang yang memberikannya memintanya untuk merahasiakannya.
5.    Tidak memberitakan keterangan yang diberikan secara off the record (for your eyes only).
6.    Dengan jujur menyebut sumbernya dalam mengutip berita atau tulisan dari suatu suratkabar atau penerbitan, untuk kesetiakawanan profesi.
Penetapan Kode Etik itu guna menjamin tegaknya kebebasan pers serta terpenuhinya hak-hak masyarakat. Kode Etik harus menjadi landasan moral atau etika profesi yang bisa menjadi pedoman operasional dalam menegakkan integritas dan profesionalitas wartawan. Pengawasan dan penetapan sanksi atas pelanggaran kode etik tersebut sepenuhnya diserahkan kepada jajaran pers dan dilaksanakan oleh organisasi yang dibentuk untuk itu.

B. Penggunaan Bahasa Jurnalistik yang Sesuai
Bahasa Jurnalistik adalah gaya bahasa yang digunakan wartawan dalam menulis berita. Disebut juga Bahasa Komunikasi Massa (Language of Mass Communication, disebut pula Newspaper Language), yakni bahasa yang digunakan dalam komunikasi melalui media massa, baik komunikasi lisan (tutur) di media elektronik (radio dan TV) maupun komunikasi tertulis (media cetak), dengan ciri khas singkat, padat, dan mudah dipahami.
Bahasa Jurnalistik memiliki dua ciri utama : komunikatif dan spesifik. Komunikatif artinya langsung menjamah materi atau langsung ke pokok persoalan (straight to the point), bermakna tunggal, tidak konotatif, tidak berbunga-bunga, tidak bertele-tele, dan tanpa basa-basi. Spesifik artinya mempunyai gaya penulisan tersendiri, yakni kalimatnya pendek-pendek, kata-katanya jelas, dan mudah dimengerti orang awam.
Bahasa Jurnalistik hadir atau diperlukan oleh insan pers untuk kebutuhan komunikasi efektif dengan pembaca (juga pendengar dan penonton). Namun, sering kita jumpai penggunaan bahasa yang tidak sesuai dengan bahasa jurnalistik, seperti kata “hajar” dalam harian Jawa Pos yang dimuat 6 Mei 2010 berjudul Barcelona “Hajar” Tenerife dengan skor Telak 4-1. Kata hajar memang sesuai dengan ciri dari bahasa jurnalistik, yaitu komunikatif dan spesifik. Akan tetapi kata hajar tersebut jika kita hubungkan dengan etika dalam berbahasa kita sehari-hari, dapat dinilai kuranglah beretika dan sopan. Selain kata tersebut bersifat “kasar”, juga menyebabkan timbulnya suatu perselisihan antara kedua suporter menjadi semakin buruk dan memicu timbulnya pertengkaran fisik antar kedua suporter.
Oleh karena itu, pemakaian bahasa jurnalistik yang baik dan benar harus dapat kita mengerti dan pahami dengan benar. Dan bila perlu kita melakukan pengkajian ulang penggunaan bahasa jurnalistik tersebut. Selain itu, kita harus dapat mengerti dan memahami bahasa jurnalistik seuai dengan keadaan dan tempatnya, kita harus dapat membedakan keadaan dan tempat satu dengan yang lain serta pengendalian diri kita sendiri agar tidak mudah terpengaruh dengan bahasa jurnalistik yang memicu emosi kita.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Dari pembahasan diatas, maka kesimpulan dari penulisan makalah ini adalah dalam menyikapi penulisan bahasa jurnalistik yang membesar-besarkan suatu masalah atau kata-kata dalam hal ini koran Jawa Pos, antara lain:
•    Jurnalistik Jawa Pos harus dapat dan mampu memahami etika dalam berbahasa, baik bahasa kita sehari-hari maupun berbahasa jurnalistik yang sesuai dengan Kode Etik Jurnalistik.
•    Jurnalistik Jawa Pos harus mampu mengerti dan memilah antara bahasa sehari-hari yang sering kita pakai dengan bahasa jurnalistik yang bersifat formal dan memiliki sitematika sendiri.
•    Meningkatkan pengendalian diri terhadap bahasa jurnalistik yang sering membesar-besarkan suatu permasalahan dan sering memakai kata-kata yang sering memicu emosional kita secara berlebihan.
B. Saran
Untuk saran yang dapat diberikan, yaitu bagi pelaku-pelaku jurnalistik khususnya Koran Jawa Pos agar dapat lebih mengerti dan memahami tentang etika berbahasa jurnalistik. Serta melakukan seleksi yang baik dan kompetitif dalam memilih pelaku-pelaku jurnalistik, supaya mendapatkan pelaku-pelaku jurnalistik yang profesional dan beretika. Misalnya, melakukan pelatihan jurnalistik Jawa Pos yang berkualitas atau pengkajian bahasa setiap edisi penerbitan Jawa Pos.

DAFTAR PUSTAKA
Apni Jepe. 2000. Bahasa Jurnalistik, (Online), (http://jurnalismedia.blogspot.com, diakses 18 Mei 2010).
Ariyanto. 2009. Bahasa Jurnalistik, (Online), (http://ariyanto.wordpress.com, diakses 18 Mei 2010).

http://www.jawapos.co.id

Poedjawiyatna. 1996. Etika Filsafat Tingkah Laku. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Romeltea. 2007. Dasar-dasar Jurnalistik, (Online), (http://www.romeltea.co.nr, diakses 22 Februari 2010).
Romeltea. 2010. Kode Etik Jurnalistik, (Online), (http://www.romeltea.com, diakses 18 Mei 2010).
Wikipedia. 2010. Kode Etik Jurnalistik, (Online), (http://www.wikipedia.com, diakses 22 Februari 2010).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s