Permainan Tradisional Bedhil-bedhilan

BEDHIL-BEDHILAN
(DOLANAN ANAK TRADISIONAL-5)

Entahlah, mungkin karena terinspirasi oleh senjata yang pernah dibawa oleh penjajah di kala itu, anak-anak masyarakat Jawa dua generasi dari sekarang atau yang lebih tua, mengenal permainan anak yang disebut dengan istilah Jawa bedhil-bedhilan. Dalam bahasa Indonesia artinya sama dengan permainan yang menyerupai pistol-pistolan. Walaupun sebenarnya kalau dilihat sepintas tidak mirip sama sekali. Namun bisa jadi penamaan itu diambil dari suara yang dihasilkan dari permainan bedhil-bedhilan yang bersuara mirip pistol “dor-dor-dor”.

Itulah sekelumit penamaan permainan bedhil-bedhilan yang dikenal oleh anak-anak masyarakat Jawa tempo dulu. Permainan ini biasanya dimainkan oleh anak laki-laki, walaupun kadang ada pula anak perempuan yang bermain bedhil-bedhilan. Bahan yang sering dipakai diambil dari sekitar lingkungan alam di sekitar rumah. Biasanya anak-anak membuat bedhil-bedhilan dari bahan bambu yang berukuran kecil. Bahan tersebut biasanya diambil dari ranting bambu apus atau beberapa jenis bambu lainnya. Bambu kecil tersebut berdiameter sekitar 1-2 cm dan diambil setiap 1 ruas. Kemudian ruas tersebut dipotong menjadi dua bagian. Bagian bawah dengan ruas tertutup lebih pendek, sementara ruas atas lebih panjang dan dua ujung berlubang. Biasanya dengan perbandingan panjang 1:3. Bambu ruas pendek kemudian dimasuki potongan stik yang berasal dari bambu pula, tetapi biasanya yang sudah kering, agar lebih kuat. Sisa potongan stik kayu dikerut hingga kecil, sehingga bisa masuk pada potongan bambu yang berukuran panjang. Sisa potongan stik kemudian dipotong satu cm lebih pendek dari panjang bambu yang berukuran panjang. Maka jadilah permainan tradisional bedhil-bedhilan.

Sementara peluru yang dipakai biasanya bunga jambu air yang sudah rontok. Bisa yang masih kuncup atau yang sudah mekar. Bunga jambu air itu biasa disebut cengkaruk. Bisa juga peluru berasal dari bunga pohon mlandhing (lamtoro gung yang berukuran kecil) yang masih kecil, belum mekar putiknya. Pohon-pohon tersebut biasanya tumbuh di halaman atau pagar pembatas pekarangan rumah, sehingga ketika zaman itu mudah mencarinya. Dan yang jelas semua bahan gratis tidak usah membeli, tinggal mencari. Jika tidak ada bunga-bunga di atas, bisa pula memakai kertas koran yang sudah dibasahi air. Tetapi untuk peluru yang terakhir ini, sering ngadat (macet) di dalam lubang bedhil-bedhilan, sehingga susah dikeluarkan jika terlalu padat atau kebesaran.
Continue reading

Permainan Tradisional Gobag Sodor

GOBAG SODOR
(DOLANAN ANAK TRADISIONAL-7)

Dolanan tradisional gobag sodor ini tentu sudah tidak asing lagi bagi anak-anak masyarakat Jawa yang sekarang berumur 30 tahun ke atas. Permainan yang akrab di kalangan anak-anak di tahun 1970-an ini sering dimainkan oleh anak laki-laki maupun kadang-kadang orang dewasa oleh kalangan masyarakat Jawa di kala waktu senggang, apalagi ketika malam bulan purnama. Salah satu kegiatan mengisi bulan purnama biasanya dengan memainkan dolanan tradisional berupa dolanan gobag sodor. Permainan ini ternyata juga sudah terekam dalam Baoesastra (kamus) Djawa tahun 1939 karangan W.J.S. Poerwadarminto terbitan J.B. Wolters’ Uitgevers Maatschappij, N.V. Groningen, Batavia. Di kamus itu tercatat di halaman 158, disebutkan hanya dengan istilah gobag, yang menerangkan sebagai sebuah jenis permainan anak. Di masyarakat Jawa seringkali pula disebut dengan permainan gobag sodor.
Continue reading

Permainan Tradisional Kucing-Kucingan

KUCING-KUCINGAN
(PERMAINAN ANAK TRADISIONAL-37)

Kucing-kucingan, adalah satu satu jenis permainan tradisional masyarakat Jawa yang juga sudah lama dikenal, setidaknya pada tahun 1913 (menurut sebuah sumber pustaka Serat Karya Saraja). Permainan ini menyebar di berbagai daerah di Jawa, meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DI. Yogyakarta. Dolanan ini juga sering disebut dolanan Kus-Kusan atau Alih Lintang. Kenapa lebih dikenal dengan nama dolanan kucing-kucingan? Pada prinsipnya, pada dolanan ini ada sebuah syair yang sering dilantunkan berirama secara bersama-sama oleh semua pemain, yang bunyinya” Dha mbuwang kucing gering”. Selain itu, dalam dolanan ini juga banyak dijumpai anak-anak berlari-lari dalam permainannya. Itulah sebabnya, masyarakat Jawa menamai dolanan ini dengan dolanan kucing-kucingan. Ada kalanya, dolanan lain yang agak berbeda, di daerah lain juga kadang menamai sebuah dolanan itu dengan nama kucing-kucingan.

Dolanan kucing-kucingan yang dimaksud di sini adalah sebuah permainan anak yang melibatkan 5 pemain (bisa laki-laki semua atau perempuan semua). Umumnya yang bermain dolanan kucing-kucingan adalah anak laki-laki, karena membutuhkan kekuatan fisik untuk berlari. Sementara alat yang digunakan untuk dolanan ini, hanya membutuhkan halaman yang luas, bisa halaman rumah, halaman kebun, atau lapangan. Di halaman inilah, anak-anak mulai membuat garis silang tegak lurus dengan panjang garis masing-masing sekitar 2,5 meter. Kemudian, keempat ujung garis dibuat lingkaran kecil dengan kaki yang melingkar. Sementara tengah garis, nantinya dipakai untuk pemain dadi. Continue reading

Permainan Tradisional Engrang

EGRANG

Alat permainan tradisional satu ini sudah tidak asing lagi bagi anak-anak di lingkungan masyarakat Jawa, karena hampir pasti bisa ditemui dengan mudah di berbagai tempat di pelosok pedesaan dan perkotaan, pada masa lalu. Egrang termasuk dolanan anak, karena permainan ini sudah muncul sejak dulu paling tidak sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, semasa penjajahan Belanda. Hal itu seperti terekam di Baoesastra (Kamus) Jawa karangan W.J.S. Poerwadarminto terbitan 1939 halaman 113, disebutkan kata egrang-egrangan diartikan dolanan dengan menggunakan alat yang dinamakan egrang. Sementara egrang sendiri diberi makna bambu atau kayu yang diberi pijakan (untuk kaki) agar kaki leluasa bergerak berjalan.

Egrang dibuat secara sederhana dengan menggunakan dua batang bambu (lebih sering memakai bahan ini daripada kayu) yang panjangnya masing-masing sekitar 2 meter. Kemudian sekitar 50 cm dari alas bambu tersebut, bambu dilubangi lalu dimasuki bambu dengan ukuran sekitar 20-30 cm yang berfungsi sebagai pijakan kaki. Maka jadilah sebuah alat permainan yang dinamakan egrang. Boleh jadi, anak-anak di lingkungan masyarakat Jawa membuat permainan egrang dengan memakai bahan dari bambu, karena bahan ini banyak dijumpai di alam sekitarnya. Bambu banyak tumbuh di pekarangan rumah atau di pinggir-pinggir sungai. Selain itu bambu juga merupakan bahan yang cukup kuat untuk permainan ini. Bambu yang biasa dipakai adalah bambu apus atau wulung, dan sangat jarang memakai bambu petung atau ori yang lebih besar dan mudah patah. Continue reading

Permainan Tradisional Benthik

BENTHIK

Anak laki-laki di lingkungan masyarakat Jawa yang lahir sebelum tahun 1970-an, tentu sudah tidak asing lagi dengan sebuah permainan yang dinamakan benthik. Mereka tentu akan teringat sekali jenis alat permainannya maupun cara bermain. Memang, permainan satu ini juga merupakan salah satu jenis permainan tradisional yang sering dipermainkan oleh anak laki-laki di lingkungan masyarakat tempo dulu. Mungkin bagi anak kelahiran tahun 2000 ke atas, terutama di kalangan perkotaan, permainan ini sudah tidak dikenal lagi, karena memang bukan zamannya lagi.

Pada 70 tahun yang lalu, permainan tradisional ini pun sudah dikenal oleh masyarakat Jawa. Terbukti, istilah permainan ini sudah terekam di Baoesastra (Kamus) Djawa karya W.J.S. Poerwadarminta terbitan tahun 1939 di Weltevreden Batavia (Jakarta). Pada halaman 41 kolom 1 disebutkan bahwa makna benthik, salah satunya adalah nama permainan. Memang tidak dijelaskan mendetail, namun permainan ini terus hidup di masyarakat Jawa dengan pola dan peralatan seperti yang sudah disebutkan di atas.

Benthik, begitulah sebutannya, dibuat dari 2 potong stik atau kayu bentuk silinder dengan panjang berbeda. Satu potong kayu dengan panjang sekitar 30 cm, yang satunya sekitar 10 cm. Kedua potongan stik tersebut biasanya berdiameter sama, sekitar 2-3 cm. Biasanya potongan kayu tersebut diperoleh dari ranting-ranting pohon yang tumbuh di sekitar halaman, seperti pohon asem, pohon mlandhing (petai Cina), pohon jambu biji, pohon mangga, dan sejenisnya. Ranting pohon yang diambil biasanya dari kayu yang ulet dan tidak mudah patah. Bisa jadi, alat benthik dibuat dari potongan bambu yang dibuat silinder dengan ukuran yang sama seperti di atas.

Cara bermainnya pun bisa dianggap mudah. Bisa dilakukan dengan cara beregu atau individu. Jika dilakukan beregu, bisa jadi satu regu (kelompok) terdiri dari 3 atau 4 anak. Ketika satu regu bermain, maka regu yang lain mendapat giliran jaga. Setiap regu secara bergantian memainkan benthik hingga semua mendapat giliran. Setelah selesai, bergantian yang jaga mendapat giliran bermain. Jika dilakukan individu, misalnya 5 anak, maka satu anak mendapat giliran bermain, maka 4 anak lainnya mendapat giliran jaga. Jika anak yang bermain sudah kalah, maka digantikan temannya secara bergantian. Regu atau anak yang mendapatkan angka terbanyak biasanya dianggap sebagai pemenang. Continue reading

This is My Memorial CB 100

Motor CB 100 q yang selalu menemani kemanapun q pergi. Motor ini dibelikan bpakq ketika aku memulai kuliah di Universitas negeri Malang semester 2. Motor ini didapat dengan harga yang cukup murah dan ekonomis..dengan sedikit dioprek ma bapak n pamanq yang kebetulan punya bengkel kecil-kecilan akhirnya CB q dapat dibawa ke Malang. Namun dengan masih banyak kekurangan, CB q pernah dan sering macet n mogok. tapi dengan penuh lapang dada, q jalani hari-hari mogok motor CB q dengan penuh ikhlas….dan masih banyak lagi kisah q dengan CB 100 q ini,,,lanjut lain kali lagi dah,,,

ni sedikit penampakan dari CB 100 q yang nantinya mungkin masih akan banyak terjadi perubahan…amin2,,,doain y para sobat-sobat,,,hehe

Istilah CB

ISTILAH CB

teman2 untuk membetulkan pemahaman kita karena yang beredar pengertiannya beda dengan yang saya baca dan ini sekedar sharing bukan menggurui, ntar kalo ditanya orang malu kalo jawabannya salah secara belajar mencintai CB.

CB itu berasal dr bahasa jepang berasal dr kata “Cobasha – Biokeosan” kalo dalam bahasa inggris bisa di sebut “Combustion Bicycle”.atau dalam bahasa indonesi berarti sepeda pembakaran.

dan untuk istilah K1 huruf K itu berarti “Kairyo” atau “improvement” atau bisa dikatakan “penyempurnaan”
jadi kalo ada K1 K2 K3 itu berarti penyempurnaan. satu dua dan seterusnya.

nah ada lagi “F” yang berarti “Four” atau kadang diartikan “faster” CBF CB Four asal jangan BF nah itu berarti laen hahahahag,

Salam,

My Lovely CB 100

The Life

Selama kamu masih bisa melakukan itu sendiri dan itu adalah benar, maka lakukanlah. jangan menunggu penyesalan yang ada pada akhirnya.

Jangan pernah takut pada siapapun selama kamu benar kecuali kepada Allah SWT..

Hidup penuh dengan cobaan dan tantangan untuk selalu kamu hadapi, jangan pernah merasa tidak bisa dan takut selama kamu masih belum mencoba dan terus berusaha..

Berikan apa yang kamu dapat berikan kepada setiap orang yang kamu sayangi dan cintai selama kamu masih hidup sebelum kamu meninggalkan dunia ini..

Dan semoga semua amal kebaikan kita dapat diterima disisi-Nya dan kita menadapatkan tempat yang layak di akhirat nanti..AMIN,,,

Persiapan SSB Banteng Muda Ke Afsel

Radar Malang

[ Kamis, 16 September 2010 ]
Melihat Persiapan SSB Banteng Muda Malang Jelang ke Afrika Selatan

Bawa Wayang untuk Kampanye Budaya Asli Indonesia

Dalam hitungan hari, anak-anak terbaik Malang Raya yang tergabung dalam Sekolah Sepak Bola (SSB) Banteng Muda akan berangkat ke Afrika Selatan. Di sana mereka akan mengikuti festival sepak bola usia 12 tahun (U-12) terakbar di dunia, yakni Danone Nations Cup (DNC). Apa saja yang mereka bawa ke negara yang baru saja usai menggelar Piala Dunia itu?

DIDIK HARIANTO



Keringat penggawa SSB Banteng Muda terlihat masih bercucuran. Andika Agraprana dan kawan-kawan baru saja menuntaskan sesi latihan di lapangan Translok Junggo Bumiaji Rabu (8/9) pagi lalu. Dalam latihan itu, kapten tim Andika Agraprana tidak bisa menuntaskan latihan karena dehidrasi.

Alumnus SDN Tlogomas 2 Malang itu pun membatalkan puasa dan segera menuju mes pemain di Vila Wildan, Batu. “Kami tidak bisa memaksakan dia,” kata asisten pelatih SSB Banteng Muda Achmad Purwanto pada Radar.

Usai latihan selama dua jam, pemain juara DNC Indonesia itu pun segera beristirahat di mes. Penggawa Banteng Muda kemudian dimanjakan oleh empat mahasiswa Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang (UM) yang tengah Praktik Kerja Lapangan (PKL) tentang Banteng Muda. Usai latihan, penggawa Banteng Muda memperoleh massage (pemijatan) dari para mahasiswa itu.

Di sela-sela massage tersebut, Radar mengajak sejumlah penggawa Banteng Muda berbincang tentang persiapan mereka ke Afsel. Mereka pun antusias. “Yang pasti kami harus membawa kamera digital. Satu saja, untuk dokumentasi Banteng Muda di Afsel,” sahut gelandang Andrian ”Andre” Khairul Ramadhan.

Bukan hanya itu, Andre juga akan membawa makanan khas Indonesia seperti tempe. Itu karena dia khawatir makanan di Afsel tidak sesuai dengan seleranya. “Saya juga akan membawa baju batik Indonesia untuk tukar cindera mata dengan pemain SSB dari negara lain,” ujar pemilik nomor punggung enam itu.

Lain Andre, lain pula Ibra. Pemain bernomor punggung 12 tersebut akan membawa kostum Banteng Muda dan replika kaus Timnas Indonesia. “Saya ingin bertukar dengan kaus timnas negara lain,” kata penyerang pemilik nama lengkap Adhimas Febriansyah ini.

“Kalau saya akan bawa kaus Arema dan Persema,” sahut sayap kiri M. Febri Alifian. “Ya karena kami arek Malang. Malang itu ya Arema dan Persema,” smbung bocah asal Makassar yang akrab dipanggil Acil ini.

Mengetahui antusiasme penggawa Banteng Muda ini mahasiswa UM yang tengah melakukan massage pun tersenyum.

Beda lagi dengan il portiere Wahyu Surya Pratama. Alumnus SSB Unibraw 82 tersebut akan membawa aksesoris budaya Indonesia. “Yang pasti saya akan bawa wayang-wayangan,” kata pemilik nomor punggung satu di Banteng Muda itu. “Belum tahu, apakah karakter petruk, gareng, bagong, atau yang lainnya,” tambah Wahyu.

Pemain yang sering tampil dengan rambut mohawk tersebut mengatakan bahwa benda-benda itu akan ditukar dengan aksesoris negara lain. “Kami ingin menunjukkan Indonesia itu memiliki ragam budaya yang sangat banyak. Salah satunya wayang ini. Untuk menunjukkan kami dari Indonesia, saya juga akan membawa bendera merah putih,” beber Wahyu.

Usai menikmati massage, penggawa Banteng Muda nonton bareng salah satu film horor asli Indonesia. Pelatih Hendrik Sugiyanto mengatakan kegiatan seperti ini penting untuk menumbuhkan kebersamaan skuadnya.

Saat asyik menikmati tayangan melalui televisi milik Villa Wildan itu, ponsel gelandang Arman Safril berbunyi tanda ada pesan masuk. Uniknya, ringtone yang keluar dari ponsel tersebut tidak seperti ringtone kebanyakan. Bunyinya “Banteng Muda, Banteng Muda, ada sms, ada sms ..“. Sontak semua penggawa pun mencibir Safril.

“HP-mu ilo Pril, liyane ndelok film kok rame dewe (HP-mu Pril, yang lain melihat film kok kamu berisik sendiri),” tukas kiper Yusuf Wahyu Prayudha. “Oh, pamer ringtone Banteng Muda ya?” tambah adik sepupu mantan penggawa Persema Aris Budi Prasetyo tersebut.

Kapten tim Andika Agraprana mengakui ringtone penanda layanan pesan singkat itu adalah hasil kreasi Arman Safril melalui fitur perekam di ponselnya. Ringtone tersebut kemudian disebar kepada penggawa Banteng Muda lainnya melalui layanan bluetooth.

Dika, sapaan akrab Andika, pun mengapresiasi rencana rekan setimnya melakukan kampanye budaya di Afsel. “Bagaimanapun kami juga membawa nama bangsa Indonesia,” ucap playmaker tersebut.

“Kalau saya yang pasti bawa replika kaus timnas Indonesia dan bendera merah putih,” sambung pemilik nomor punggung lima itu.

Sebelum Lebaran, Banteng Muda menjalani pemusatan latihan di Kota Batu. Usai Lebaran, pemusatan latihan bergeser ke Stadion Gajayana. Seminggu terakhir, mereka banyak menghadapi ujicoba melawan tim U-13 dan U-14.

Minggu (19/9) nanti mereka akan berangkat ke Jakarta mengikuti Danone National Training Camp. Bersama SSB Pengcab PSSI Semarang, Banteng Muda menjalani kegiatan tersebut di bawah arahan mantan pelatih Arema Bambang Nurdiansyah. Tahun ini Indonesia diwakili dua tim. Pasalnya, tahun lalu SSB Pengcab PSSI Semarang batal berkiprah di level internasional karena merebak virus flu burung di Brasil

Selama di Jakarta, dijadwalkan mereka akan menjalani lima kali latihan rutin di lapangan gelanggang mahasiswa Soemantri Brodjonegoro. Banteng Muda juga dijadwalkan menjalani dua kali ujicoba menghadapi SSB Jakarta dan SD Internasional.

Selasa (28/9) mereka dijadwalkan akan terbang ke Afsel mengikuti DNC dunia dan tepat seminggu setelahnya Banteng Muda dijadwalkan kembali ke Indonesia. Apapun hasilnya, mereka adalah duta bangsa. (*/war)

Pornografi dan Internet

Pornografi, Bagian Kecil Realitas Internet

Rapin Mudiardjo dan Steven Haryanto

Dengan Internet gambar, cerita, dan film porno semakin mudah diperoleh. Cukup dengan mengetik serangkaian kata ke search engine yang identik dengan istilah-istilah yang berkonotasi porno, akan diperoleh segera situs-situs yang menyajikan semua ini. Bermodal 3500–6000 rupiah saja, seorang anak bisa memperoleh materi-materi dewasa. Dan materi dewasa di Internet amat beragam, mulai dari yang “normal” hingga yang ganjil, tidak lazim, bahkan “sakit.” Continue reading